Festival Teater

Membangun Ruang Nilai-Nilai Multatuli

Peserta merupakan kelompok/komunitas teater dari seluruh wilayah Indonesia yang diseleksi melalui tahapan kurasi. Di tahun ini, kami juga mengundang tamu spesial dari Malaysia yang akan mementaskan “Di 37”. Festival Teater dirancang sebagai bagian dari program Festival Seni Multatuli 2019. Para peserta naskah hasil interpretasi dari karya Multatuli, sesuai dengan tema tahun ini: “Membangun Ruang Nilai-Nilai Multatuli”. Harapannya, festival ini dapat menarik minat generasi muda dalam bermain peran dan mengapresiasi seni teater. Juga, karya-karya yang diadaptasi dari karya Multatuli akan menambah khasanah pertunjukan teater yang berasal dari teks sastra.

Sebagai bagian dari FSM 2019, Festival Teater pada dasarnya melanjutkan tradisi yang Multatuli lakukan selama ia hidup. Multatuli menulis naskah drama dan melakukan aktivitas bermain teater setelah ia tidak lagi menjadi Asisten Residen di Lebak pada 1856. Selain menulis roman Max Havelaar (1860), Multatuli menerbitkan pula Ideën (Ide-ide) antara tahun 1862 dan 1877. Kepada penerbitnya, ia menulis: “Saya akan menyampaikan kisah-kisah, cerita-cerita, sejarah-sejarah, kisah-kisah perumpamaan, catatan-catatan, kenangan-kenangan, paradoks-paradoks... Saya harap akan ada idenya dalam setiap kisah, dalam setiap keterangan, dalam setiap catatan itu. Jadi namakanlah karya saya itu: Ide-ide. Hanya itu. Dan tulis di atasnya: ′Seorang penabur benih pergi ke luar untuk menabur.’”

Di dalam Ideën terdapat fragmen-fragmen Woutertje Pieterse dan naskah drama Vorstenschool (Sekolah Raja-raja). Woutertje, dalam Woutertje Pieterse, yang pada dirinya dapat kita jumpai kembali sifat-sifat Eduard muda, adalah seorang pemuda yang berbakat dan perasa yang selalu berada dalam konflik dengan lingkungannya yang picik dan munafik, termasuk keluarganya sendiri. Sekolah Raja-raja mengupas hubungan antara raja dan rakyatnya. Naskah drama ini meraih sukses ketika dipentaskan. Ada juga kisah yang mengingatkan kita pada masa tatkala Multatuli menjadi kontrolir di Sumatra Barat dalam Pengadilan Sulaiman. Ketika menulis naskah drama, ia tinggal di Wiesbaden, Jerman. Semangat menulis dan bermain teater ini yang diharapkan dapat membangun ekosistem sastra khususnya teater di Lebak dan Banten. Ekosistem ini salah satunya dihidupkan melalui FSM 2019.

 

 

 

Waktu Pelaksanaan:

Selasa dan Rabu, 10-11 September 2019 mulai pukul 19.00—23.30

Tempat:

Pendopo Kabupaten Lebak

Kelompok/Komunitas Terpilih:


Hari ke-1 (10 September 2019, 19.00—23.30):

  • Teater Wilwatika (Surabaya)

            judul: Khilaf

            karya: Roci Marciano M.Sn,

            sutradara: Alvian Bolotlovski

  • Bangkang Etnoteaterikal (Bangkalan, Madura)

            judul:  Apa  Yang  Ada Di Kepala Saya Vs Kepala Mereka

            karya: Abi ML

            sutradara: Abi ML

  • Teater Kakanna (Polewali Mandar, Sulawesi Barat)

            judul: Sitiyuq Purus

            karya: Adil Tambono

            sutradara: Adil Tambono

  • Riauberaksi - Studio Seni Peran (Pekanbaru, Riau)

            Judul: Koloni(al)

            karya: Willy FWI

            sutradara: Willy FWI

 

Hari ke-2 (11 September 2019, 19.00—23.30):

  • Baskoro Manjer Kawuryan (Yogyakarta)

            judul: Multatuli dan Kisah yang Membunuh Kolonialisme

            karya: Arief Baskoro

            sutradara: Arief Baskoro

  • Tepak Tellaz (Malaysia)

            judul:  Di 37

            karya: Mustari Dahlan

            sutradara: Sarina Aziz

  • Forum Teater Sekolah (Kota Bengkulu)

            judul: Manusia-Manusia

            karya: Edi Ahmad Sikumbang

            sutradara: M.F Novriandi

  • Sophiyah (Cimahi, Bandung)

            Judul: Dear Diary

            karya: Sophiyah

            sutradara: Sophiyah