Karnaval Kerbau

Kerbau dan petani dua hal pokok yang diungkap oleh Multatuli dalam Max Havelaar. Melalui kerbau dan petani Multatuli membuka kedok busuknya praktik kolonialisme yang berlangsung di tanah jajahannya.  Kerbau dan petani serta nasibnya menjadi penting untuk diangkat dan Festival Seni Multatuli 2019.


Kerbau dan karnaval kerbau yang dimiliki oleh petani masa sekarang tentu berbeda dengan masa sewaktu Multatuli bertugas di Lebak tahun 1856. Kerbau yang ditampilkan dalam FSM 2019 adalah kerbau yang ada di sekitar Rangkasbitung, Lebak umumnya yang telah disurvei terlebih dahulu. Kerbau yang dibawa ke karnaval akan diceritakan asal-usulnya oleh petani pemiliknya. Kerbau yang terbesar badannya, terpanjang tanduknya, terkuat tenaganya yang akan mengikuti karnaval, misalnya. Petani akan menceritakan hal tersebut di panggung karnaval. Kerbau yang akan mengikuti karnaval berjumlah 10-20 ekor kerbau.


Multatuli melalui karyanya yang ditulis selama masa-masa sulit itu menguak tabir nasib tragis sebidang bumi yang dijajah agar diketahui masyarakat Belanda dan Eropa. Salah satu bagian dalam Max Havelaar yang sering dikupas hingga saat ini adalah Saija dan Adinda, yang dengan jernih menggambarkan kondisi rakyat Hindia Belanda pada masa itu:


“Waktu kerbau ini dirampas kepala distrik Parang Kudjang, ia sangat berdukatjita, berkata-kata ia tak suka, sampai berhari-hari lamaja. Karena, waktu meluku sudah tiba, dan alangkah menakutkan kalau sawah tak tergarap pada musimnja, sampai nanti musim menyebar benihpun lewat berlalu, dan achirnja tiada sebatang padipun bakal ditunai buat disimpan didalam lumbung. 


Maka diambil olehnja sebilah keris pusaka peninggalan ajahja. Tidak begitu indah memang, tapi ada pengikat-pengikat perak melingkari sarungnja, dan selembar perak terhias pada udjungnja. Didjualnja keris pusaka itu pada seorang Tionghoa jang tinggal diibukota distrik, dan kembali ia pulang membawa dua puluh enpat rupiah, dan dengannja ia beli kerbau baru.


Saidja telah meningkat sembilan tahun, dan Adinda enam tahun mendjelang kerbau baru ajah Saidja dirampas lagi oleh kepala distrik Prang Kudjang.


Ajah Saidja jang sangat miskin, kini mendjual sepasang sangkutan klambu dari perak kepada seorang Tionghoa; sangkutan klambu pusaka peninggalan orang tua istrinja, delapan belas rupiah. Dan dengan itu dibelinja kerbau baru.” (Max Havelaar, 1972)


Kondisi penduduk pribumi begitu miskin. Harta mereka dirampas penjajah, kemerdekaan pun tiada akibat belenggu kolonialisme yang mengikat kuat kebebasan mereka. Keluarga Saija tak mampu lagi membeli kerbau baru karena harta sudah dirampok tangan-tangan kolonial. Tak ada alat untuk membajak; tanah pun terlantar. Artinya, kemiskinan semakin merantai. Penderitaan semakin menujam. 

Lewat Max Havelaar, Multatuli menggugat kondisi tersebut. Ia menentang praktek-praktek busuk kolonial. Lewat karya sastra ia berhasil menggoncang negeri Belanda, membangunkan orang-orang sebangsanya yang tidak peduli pada kondisi tanah jajahan; bahwa mereka hidup di atas kesengsaraan bangsa lain. Gugatannya begitu menggores tajam. Suaranya menusuk jantung kemanusiaan. Publik pun terpikat dan mulai berpikir tentang negeri yang telah memberi kemewahan kepada mereka.



Waktu Pelaksanaan:

Minggu, 15 September 2019


Tempat:

Alun-Alun Rangkasbitung