Komunitas Teater Malaysia Ramaikan Festival Seni Multatuli 2019

RANGKASBITUNG (Indonesiana) – Kabupaten Lebak dikenal luas di masyarakat dunia melalui novel Max Havelaar (1860) yang ditulis pengarang Belanda bernama Eduard Douwes Dekker atau lebih dikenal dengan nama Multatuli (aku yang banyak menderita). Keberadaan Multatuli di Kabupaten Lebak ditandai dengan beragam nama yang disematkan di antaranya pada jalan, apotik, majalah, alun-alun, aula, radio, dan museum.

Museum Multatuli dibuka untuk umum pada 11 Februari 2018. Menempati bangunan cagar budaya bekas kantor Wedana Rangkasbitung berlokasi di Jalan Alun-Alun Timur No. 8, Rangkasbitung. Museum Multatuli menjadi ruang interaksi kreatif antarbudaya yang hidup dan berkembang di Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten. Keberadaan Museum Multatuli di Kota Rangkasbitung merupakan upaya Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak dalam menyediakan ruang bagi keragaman ekspresi budaya dan mendorong interaksi budaya untuk memperkuat kebudayaan yang inklusif.

Festival Seni Multatuli merupakan ikhtiar yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten Lebak dalam rangka membuka ruang interaksi kreatif antarbudaya. Festival Seni Multatuli yang selajutnya disingkat menjadi FSM merupakan program tahunan yang tergabung dalam platform Indonesiana yang digagas Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kegiatan FSM 2019 merupakan kegiatan kedua yang dilaksanakan di Museum Multatuli. Mengusung tema “Kopi dan Seni”, FSM 2019 dirancang khusus sebagai bagian dari upaya menarik sebanyak mungkin pengunjung ke Kabupaten Lebak. FSM 2019 juga menjadi bagian dari ikhtiar mengenalkan Multatuli dan Museum Multatuli kepada masyarakat secara gotong royong sebagaimana amanah UU No.5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Multatuli, pengarang yang memberikan ilham kemerdekaan, harmoni, kesederajatan, keberagaman, dan kemanusiaan kepada dunia.

Salah satu rangkaian kegiatan FSM 2019 adalah Festiaval Teater, sebuah festival seni teater yang sukses merangkul komunitas teater di seluruh Provinsi Banten pada tahun 2018 yang secara sukarela menampilkan pementasan dengan prinsip gotong royong dalam rangka pemajuan kebudayaan. Mengingat suksesnya kegiatan teater pada tahun tersebut. Pengembangan kegiatan dilakukan, Panitia melakukan pengembangan dengan menjangkau komunitas teater  melalui pelibatan komunitas yang lebih luas lagi.  Berbeda dari tahun sebelumnya FSM 2019 mencoba merangkul komunitas teater nasional dan internasional.

Dengan mengusung tema “Membangun Ruang Kebebasan Nilai Multatuli” panitia menghadirkan kelompok teater dari berbagai daerah dan luar negeri. Setidaknya ada delapan komunitas teater yang terlibat dalam FSM 2019 yang hadir melalui proses seleksi dan undangan. Penseleksian dilakukan panitia dengan menjaring teater yang akan tampil, melalui  proposal sinopsis dan video penampilan calon peserta FSM 2019. Tidak kurang dari duapuluh delapan proposal diterima, kemudian diseleksi hingga muncul delapan kelompok.

Diantara kelompok tersebut adalah Forum Teater Sekolah Bengkulu, Baskoro Panjer Kawuriyan asal D.I Yogyakarta; Teater Wilwaktikta asal Surabaya, Jawa Timur; Bangkang Etno Teatrikal asal Madura, Jawa Timur; Teater Kakanna, Sulawesi Barat; Riau Beraksi asal Riau; Sopiyah asal Surakarta, Jawa Tengah; dan Teater Tepak Tellaz asal Kuala Lumpur; Malaysia (undangan);.

Upaya ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas festival dari tahun sebelumnya. Menurut Direktur FSM 2019  Ubaidillah Muhctar, upaya peningkatan kualitas festival dilakukan dengan mengupayakan proses kurasi yang kritis, objektif dan sesuai dengan tema yang ditentukan panitia. Upaya mengundang pementas dari  negeri jiranpun dilakukan sebagai upaya penguatan persahabatan kedua negara juga dalam rangka penguatan pengembangan kebudayaan menuju festival skala internasional.

Harapan disampaikan oleh Mustari Dahlan  Penulis Naskah  dan Tim teknis (Kelompok Teater Tepak Tellaz Kuala Lumpur, Malaysia) agar Festival Seni Multatuli jangan berhenti dan terus dilaksanakan, tanpa adanya festival ini, banyak orang tidak mengetahui siapa Multatuli yang merupakan bagian dari sejarah penting Indonesia. Apresiasi yang tinggi pun disampaikan pada panitia atas semangat gotong royong panitia. Baginya semangat tersebut tergambar dari panitia yang  saling membantu, saling menolong dan semangat tak pantang lelah yang tergambar dari sorot mata para panitia festival.

Festival Teater FSM 2019 mengusung penerapan konsep teater anti proscenium, yang dalam penampilannya setiap kelompok penampilannya harus merespon ruang yang disediakan dalam festival ini panitia menyiapan tempat pementasan berupa Pendopo Kabupaten Lebak tanpa panggung pemisah antara penonton dan pementas.

Kegiatan Festival Seni Multatuli 2019 dilaksanakan selama satu pekan, 9-15 September 2019 yang dirangkai dalam banyak mata acara kegiatan diantaranya: Workshop Cerpen, Workshop Fotografi dan Videografi, Workshop Film Pendek, Workshop Kriya, Penerbitan dan Menulis Cerpen, Simposium, Konser Musik Tradisi, Festival Teater, Festival Kesenian Tradisi; Pemutaran Film Pendek, Pameran Seni Rupa, Pameran Sejarah Kopi, Karnaval Kerbau, Menyusuri Jejak Multatuli, dan Konser Musik Tradisi. (IAF)

Komunitas Teater Malaysia Ramaikan Festival Seni Multatuli 2019.” Direktorat Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 12 September 2019. 19 September 2019. <https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditsejarah/komunitas-teater-malaysia-ramaikan-festival-seni-multatuli-2019/>