Membaca ulang Max Havelaar dalam Festival Seni Multatuli 2019

Edward Douwes Dekker alias Multatuli merupakan salah satu tokoh yang terus memancing perdebatan, bahkan hingga kini, 132 tahun setelah kematiannya.

Ia dimitoskan dan diagungkan, tapi sekaligus dinistakan dan dicurigai. Karyanya tidak hanya memengaruhi ranah kesusastraan, melainkan juga telah menggugah kesadaran berbangsa dan bernegara, menginspirasi tindakan, dan memengaruhi kebijakan dalam ranah sosial-politik, baik di Indonesia maupun di Belanda.

Kontroversi itu kerap merebak di kota kecil Rangkasbitung, Lebak, Provinsi Banten. Di sana, Dekker pernah menjadi asisten residen. Rangkasbitung juga menjadi latar cerita novelnya yang paling dikenal yaitu Max Havelaar (1860), novel yang mengungkap perlakuan buruk para penjajah terhadap kaum pribumi di Hindia Belanda.

“Paling tidak, atas dasar itulah, perhelatan Festival Seni Multatuli (FSM) pada tahun kedua ini, akan kembali menyuguhkan berbagai wacana mengenai Multatuli atau Max Havelaar melalui kegiatan simposium,” ujar Ubaidillah Muchtar, Kepala Museum Multatuli Rangkasbitung sekaligus Direktur FSM 2019.

FSM 2019 akan berlangsung pada 9-15 September, sementara simposium diadakan di tempat yang sama pada 11-12 September. Peminat bisa mendaftar secara gratis melalui tautan ini.

Kali ini, tema simposium adalah “Membaca Ulang Max Havelaar”. Panitia siap menghadirkan Peter Carey (sejarawan, Universitas Oxford), Yusri Fajar (sastrawan, Universitas Brawijaya), Lisabona Rahman (penulis kritik film), dan Ruth Indiah Rahayu (peneliti Inkrispena, Pusat Kajian Wanita dan Gender Universitas Indonesia).

“Masing-masing pembicara utama tersebut akan menguraikan pembahasannya dari mulai persoalan relasi kuasa antara kolonialisme dan para elite lokal, politik tanam paksa, konstruksi sosial dan budaya, identitas kultural, hingga problem gender,” jelas Ubaidillah.

Simposium FSM 2019 kali ini juga memberi kesempatan pada masyarakat untuk berpartisipasi dengan cara mengirimkan malakah hasil pembacaan atas Max Havelaar, dan memberi berbagai perspektik dalam disiplin ilmu yang relevan, lantas mempresentasikannya dalam acara.

“Ini kesempatan bagi yang punya suara beda dan kritis terhadap Multatuli. Supaya kritik Anda tak berakhir sebagai nyengnyong belaka,” ujar Bonnie Triyana, sejarawan asal Lebak.

Abstrak yang dikirim masyarakat akan diseleksi oleh para pengulas yang telah ditunjuk panitia simposium. Mereka akan memilih 15 abstrak, lalu penulisnya diundang untuk mempresentasikan dalam Simposium: Membaca Ulang Max Havelaar.

Abstrak dapat dikirim melalui tautan ini sampai batas tenggat 15 Juni. Pemenang diumumkan pada 22 Juni. Para penulis terpilih harus mengembangkan abstraknya menjadi tulisan lengkap, diberi waktu hingga 10 Agustus.

Naskah lengkap para penulis terpilih itu harus memenuhi syarat/ketentuan teknis sebagai berikut: gaya tulisan dapat berupa artikel jurnal, ilmiah populer, atau esai, dengan panjang tulisan minimal 10 dan maksimal 15 halaman, menggunakan jenis font Times New Roman, 12 pt, 1,5 spasi, marjin 3-3-3-3, ditulis lengkap dengan daftar pustaka dan catatan kaki (jika ada), dan dilengkapi dengan biografi pendek (150-200 kata) pada halaman terakhir.

 

Kelima belas penulis terpilih yang menyajikan naskahnya dalam simposium ini berhak atas fasilitas yang disediakan panitia FSM 2019, berupa honorarium, sertifikat, dua eksemplar buku prosiding ber-ISBN, gratis biaya simposium, konsumsi, dan akomodasi selama acara berlangsung.

“Kami berharap, simposium ini akan melahirkan pembacaan-pembacaan yang baru, segar, dan beragam, serta lebih kontekstual dengan kondisi ke-Indonesiaan-an kita hari ini,” tutup Ubaidillah.

Selain simposium, FSM 2019 yang akan berlangsung pada 9-15 September 2019 juga akan menggelar berbagai acara menarik seperti festival teater, festival seni tradisi, penerbitan dan diskusi antologi cerita pendek, workshop membatik, telusur jejak Multatuli, karnaval kerbau, pemutaran film, pameran seni rupa, dan berbagai kegiatan menarik lainnya.

 

Sumber:
“Membaca Ulang Max Havelaar dalam Festival Seni Multatuli 2019”. Beritagar. 17 Juni 2019. 19 September 2019. < https://beritagar.id/artikel/seni-hiburan/membaca-ulang-max-havelaar-dalam-festival-seni-multatuli-2019>