Resmi Dibuka, FSM 2019 Diharapkan Jadi Role Model Bagi Festival-Festival Lain

Fajarbanten.com – Menyandang predikat terbaik dari 9 festival yang tergabung dalam platform Indonesiana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia serta apresiasi dari para berbagai pihak, antara lain penggiat, komunitas, akademisi, pelajar dan mahasiswa. Festival Seni Multatuli (FSM) kembali digelar. Predikat terbaik ini akan menjadi tantangan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan bagi semua kalangan. Kegiatan FSM berlangsung dari tanggal 9 hingga 15 September 2019 akan tetapi pra Event sudah digelar dari Bulan Februari-Maret 2019.

Bupati Lebak, lti Octavia Jayabaya berharap, FSM 2019 dapat menjadi role model bagi festival-festival lain dalam penggarapan event berskala nasional serta diharapkan event daerah lainnya dapat berbenah untuk menaikan kualitas penyelenggaraaannya dengan semangat dan modal gotong-royong antar pemangku kepentingan bukan tidak mungkin FSM akan menjadi festival bersekala nasional bahkan internasional.

“Lebak sebagai daerah yang kaya akan kultur kearifan budaya lokal dan di tengah-tengah arus derasnya kemajuan jaman menjadi tanggungjawab kita bersama dalam rangka pelestarian kebudayaan dan menuntut untuk mampu survive berupaya mempertahankan kearifan budaya dan nilai adat istiadat sebagai ciri khas identitas daerah dengan keberhasilan. Atas semua itu, Kabupaten Lebak akan menjadi role model dari kemajuan dan berkebudayaan dan budaya yang berkemajuan,” kata Iti dalam sambutannya di Pendopo Museum Multatuli, Senin (09/09/2019).

Lalu, lanjut Iti, di tahun 2019 Kabupaten Lebak resmi terlepas dari predikat kabupaten tertinggal. Namun, perjuangan belum selesai dengan spririt Multatuli, pihaknya bersama-sama menuntaskan ketertinggalan, kemiskinan, kebodohan bukan hanya sebagai individu maupun kolektif dalam entitas bangsa indonesia secara umum.

Pada kesempatan itu juga, Iti mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia atas dukungannya kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak dan berharap agar supportnya terus berlanjut. 

“Setiap kita berpegang pada spirit yang sama soal perjuangan melawan ketertinggalan, kemiskinan dan kebodohan maka setiap dari kita dapat menjadi Multatuli di era kekinian,” pungkasnya.

Sementara itu, FSM 2019 dibuka langsung oleh Staf Ahli Bidang Inovasi dan Daya Saing, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Ir. Ananto Kusuma Seta.

Dalam sambutannya Ananto menyampaikan, bahwa Indonesia memasuki era 4.0, dimana semua serba digital, banyak dari pabrik-pabrik saat ini menggunakan robot sebagai pekerjanya. Meskipun begitu, menurutnya, ada satu hal yang tidak bisa dikerjakan oleh robot yaitu hal yang berdasar pada seni dan budaya.

“Tidak bisa robot menjadi penulis lagu, pengarang cerpen, penari menjadi barista dan lain sebagainya, itu kekuatan Indonesia dan kekuatan Lebak masa depan, karena itu kita rawat budaya kita untuk menjadi bagian dari kesejahteraan ekonomi masa depan kita,” kata Ananto seraya menambahkan, FSM 2019 adalah upaya untuk promosikan pemikiran anti kolonialisme pembangunan berkelanjutan ke depan dengan menggunakan instrumen sastra seni dan budaya. (Ajat)


Sumber:

“Resmi Dibuka, FSM 2019 Diharapkan Jadi Role Model Bagi Festival-Festival Lain”. Fajar Banten. 9 September 2019. 19 September 2019. <https://fajarbanten.com/resmi-dibuka-fsm-2019-diharapkan-jadi-rule-model-bagi-festival-festival-lain/>