Dhalia: Menghidupkan “Orang-orang Baru Dari Banten”

Oleh: Uthera Kalimaya

Siapa Itu Dhalia?

Dhalia (1925–1991) adalah aktris legendaris Indonesia yang membintangi lebih dari 50 film selama lima dekade kariernya. Namanya melejit lewat film klasik Lewat Djam Malam (1955) yang memberinya Piala Citra sebagai Aktris Terbaik. Selain itu, ia juga menerima dua nominasi lain di Festival Film Indonesia.

Lahir di Medan pada 10 Februari 1925, Dhalia adalah putri dari Tengku Katam, seorang penulis pentas. Ayahnya menamai kelompok teaternya Dhalia Opera. Pendidikan formal Dhalia ditempuh di sekolah Muhammadiyah, tetapi sejak muda ia aktif dalam rombongan teater ayahnya. Bakat akting dan menyanyinya terlihat jelas sejak remaja, meski ayahnya sempat berharap ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar di Kairo.

Pada tahun 1941, Dhalia debut di film musikal Pantjawarna karya Njoo Cheong Seng. Kariernya berlanjut lewat Panggilan Darah dan Moestika dari Djemar, lalu beberapa film propaganda Jepang saat pendudukan (1942–1945). Setelah sempat vakum selama Revolusi Nasional, ia kembali aktif pada 1952 dan menorehkan karya-karya penting hingga 1990. Tahun 1980-an bahkan menjadi masa paling produktifnya.

Dhalia wafat di Jakarta pada 14 April 1991, meninggalkan jejak mendalam bagi dunia seni peran Indonesia.

Dhalia dan Drama “Orang-orang Baru di Banten”

Selain dunia film, Dhalia juga berkarya di panggung teater. Salah satu kontribusi terbesarnya adalah drama dua babak berjudul “Orang-orang Baru di Banten”, yang ia sadur dari novel “Sekali Peristiwa di Banten Selatan” karya Pramoedya Ananta Toer.

Dalam naskah ini, Dhalia menafsirkan ulang realitas sosial-politik Banten pada masa kolonial. Ia menyoroti perlawanan rakyat kecil, ketidakadilan, dan proses lahirnya identitas baru. Dengan sensitivitas artistiknya, Dhalia berhasil membawa teks Pramoedya ke panggung sebagai sebuah karya reflektif yang menghubungkan sastra, teater, dan sejarah. “Bahkan, adaptasi “Orang-Orang Baru di Banten” oleh Dhalia dianggap lebih alamiah dibandingkan novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer (Scherer, 2019: 128). Karya ini membuktikan bahwa Dhalia bukan hanya bintang layar perak, tetapi juga seniman multidisipliner yang berani menembus batas medium.

FSM 2025: “Orang-orang Baru dari Banten” dan Seabad Pramoedya

Tahun 2025 adalah momentum penting. Festival Seni Multatuli (FSM) 2025 yang akan digelar pada 5–7 September di Rangkasbitung, Lebak, Banten, mengusung tema “Orang-orang Baru dari Banten”. Tema ini diadopsi dari judul drama karya Dhalia sekaligus merefleksikan proses lahirnya identitas baru masyarakat Banten melalui sejarah, seni, dan kebudayaan.

FSM 2025 juga akan menjadi bagian dari perayaan seabad kelahiran Pramoedya Ananta Toer (1925–2025). Dengan demikian, festival ini bukan hanya ruang seni, tetapi juga bentuk penghormatan kepada salah satu sastrawan terbesar Indonesia. Kehadiran karya Dhalia yang menyadur Pramoedya memperkuat pesan bahwa dari setiap pergulatan sosial selalu melahirkan “orang-orang baru” yaitu manusia-manusia yang membangun identitas baru untuk masa depan bangsanya.

Warisan Dhalia untuk Dunia Seni

Warisan Dhalia bukan hanya deretan film, tetapi juga keberanian perempuan Indonesia untuk tampil di ruang publik dengan karya yang kritis dan reflektif. Sosoknya mengingatkan bahwa seni selalu terbuka untuk ditafsir ulang, dan selalu relevan dengan konteks zamannya. Melalui FSM 2025, warisan Dhalia akan kembali hidup. Sebuah pengingat bahwa seni, sejarah, dan sastra adalah ruang lahirnya identitas baru yang membentuk wajah kebudayaan Indonesia.Jangan lewatkan Festival Seni Multatuli 2025 pada 5–7 September di Rangkasbitung, Lebak, Banten. Rayakan seabad Pramoedya Ananta Toer dan temukan makna “Orang-orang Baru dari Banten” melalui seni, sastra, dan pertunjukan. Jadilah bagian dari lahirnya identitas baru Banten dan Indonesia!