Ngarengkong: Tradisi Mengangkut Padi sebagai Rasa Syukur Masyarakat Kasepuhan Lebak

Home / Acara / Ngarengkong: Tradisi Mengangkut Padi sebagai Rasa Syukur Masyarakat Kasepuhan Lebak
Ngarengkong: Tradisi Mengangkut Padi sebagai Rasa Syukur Masyarakat Kasepuhan Lebak

Oleh: Uthera Kalimaya

Di tengah lanskap agraris Kabupaten Lebak, Banten, terdapat sebuah tradisi adat yang menjadi penanda eratnya hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, yaitu ngarengkong atau ngunjal pare yang biasanya dilaksanakan dalam tradisi Seren Taun. Tradisi ini bukan sekadar prosesi membawa padi dari huma serang (sawah) atau huma (ladang) ke leuit (lumbung), melainkan wujud nyata rasa syukur, kebersamaan, serta komitmen masyarakat adat kasepuhan dalam menjaga warisan leluhur. Pada Festival Seni Multatuli 2025 Semarak Budaya Indonesia, tradisi ini dihadirkan dalam bentuk Ngarengkong Kolosal yang melibatkan 300 orang warga Kasepuhan Banten Kidul.

Apa Itu Ngarengkong?

Ngarengkong merupakan tradisi tahunan masyarakat kasepuhan di Lebak yang dilakukan setelah panen raya. Dalam prosesi ini, padi diangkut menuju leuit (lumbung penyimpanan) menggunakan alat bambu panjang bernama rengkong. Padi yang dipikul dalam prosesi ini tidak diperjualbelikan, melainkan disimpan sebagai cadangan pangan untuk saat paceklik, atau untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang memerlukannya.

Keunikan ini menjadikan Ngarengkong bukan hanya ritual adat, melainkan juga simbol kemandirian pangan dan kearifan lokal yang berakar pada falsafah Seren Taun, penanda pergantian musim panen dan tanam.

Tujuan dan Makna Filosofis

Tujuan utama dari ngarengkong adalah ungkapan syukur kepada Tuhan atas panen yang melimpah. Namun, dibalik itu tersimpan nilai filosofis yang mengikat kehidupan masyarakat adat, yakni: (1) hubungan manusia dengan Tuhan yang diwujudkan lewat doa dan syukur; (2) hubungan manusia dengan alam sebagai pengingat bahwa tanah, air, dan sawah adalah sumber kehidupan yang harus dijaga; dan (3) hubungan manusia dengan sesama, ditampakkan dalam solidaritas, persaudaraan, dan gotong royong yang menguatkan kebersamaan warga.

Ketika ditampilkan secara kolosal dalam Festival Seni Multatuli 2025 Semarak Budaya Indonesia, nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ngarengkong ini dipertegas. Rasa syukur tidak hanya dimaknai personal atau komunal, tetapi juga dipertunjukkan sebagai identitas budaya Banten yang patut dibanggakan di hadapan publik luas.

Proses Ritual Ngarengkong

Ngarengkong selalu dilaksanakan melalui tahapan penuh simbol. Pengangkutan padi dengan rengkong yang dipikul bersama-sama menuju leuit, menghasilkan bunyi khas yang menjadi identitas ritual ini. Dalam versi kolosal di Festival Seni Multatuli, tahapan ini disusun menjadi sebuah pertunjukan yang mampu memperlihatkan keagungan tradisi. 300 orang yang dilibatkan dalam prosesi ini dikumpulkan di Gedung Juang 45 Pamitran di Jalan Multatuli No. 45 Rangkasbitung untuk kemudian berjalan bersama sambil memikul rengkong secara serentak, menciptakan suara ritmis ke arah Jalan Kaum, melewati Jalan Abdi Negara hingga akhirnya berakhir di Jalan Alun-Alun Timur Rangkasbitung sebagai Panggung Utama Festival Seni Multatuli 2025 Semarak Budaya Indonesia. 

Nilai Sosial dan Budaya

Ngarengkong menyimpan nilai-nilai yang penting untuk kehidupan modern, antara lain: (1) pelestarian identitas budaya melalui tradisi ngarengkong yang telah diwariskan secara turun temurun di tengah arus globalisasi; (2) tumbuhnya solidaritas sosial dengan memperkuat kebersamaan melalui partisipasi kolektif; dan (3) kesadaran ekologis yang mengajarkan pentingnya keseimbangan manusia dengan alam.
Kehadiran Ngarengkong Kolosal di Festival Seni Multatuli 2025 Semarak Budaya Indonesia memperluas makna ini. Tradisi yang biasanya dilakukan di lingkup lokal dan dilaksanakan dalam prosesi Seren Taun, kini tampil di panggung nasional sebagai pesan universal tentang syukur, kebersamaan, dan harmoni dengan alam.

Penutup

Ngarengkong bukan hanya ritual adat masyarakat Kasepuhan Lebak, tetapi juga warisan budaya yang hidup dan dinamis. Melalui perhelatan Ngarengkong Kolosal di Festival Seni Multatuli 2025 Semarak Budaya Indonesia, tradisi ini tampil sebagai perayaan besar rasa syukur dan kebersamaan yang melibatkan 300 orang dari Kasepuhan Banten Kidul. Kehadirannya tidak hanya memperkuat identitas budaya lokal, tetapi juga meneguhkan pesan bahwa tradisi leluhur tetap relevan sebagai sumber inspirasi dan pengikat harmoni di era modern.