Simposium “Sastra Hindia Belanda dan Kita” Sesi 2

Festival Seni Multatuli (FSM) pertama kali digelar pada 2018 lalu. Dalam rentang penyelenggaraannya, selain menyuguhkan berbagai bentuk pertunjukan, mulai dari kesenian tradisi sampai kontemporer, FSM juga kerap berupaya melakukan pembacaan terhadap berbagai isu yang tampak sepi dari perbincangan dunia sastra kontemporer. Pembacaan tersebut digelar dalam bentuk simposium, diskusi, dan ceramah budaya. Sejauh ini, FSM telah memublikasikan makalah/esai para pembicara dalam tiga buku yang dibagikan gratis selama acara: Pascakolonial dan Isu-isu Mutakhir Lintas Disiplin (2018); Membaca Ulang Max Havelaar (2019); Manis tapi Tragis: Kisah Saidjah Adinda dalam Max Havelaar (2021).

Namun, dalam penyelenggaraan FSM pada 2022–2024, kegiatan simposium dan diskusi tidak dapat digelar. Untuk itu, tahun 2025 ini, FSM 2025 kembali menyelenggarakan simposium dengan mengusung tema “Sastra Hindia Belanda dan Kita”. Tema tersebut kami nukil dari judul buku karya Subagio Sastrowardoyo yang pertama kali terbit pada 1983. Sastra Hindia Belanda dan Kita karya Subagio Sastrowardoyo mendiskusikan novel Max Havelaar dan sosok Multatuli, serta menyingkap pengaruhnya terhadap, di antaranya, novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja—terbit pertama kali pada 1949. Untuk itu, bahasan Simposium “Sastra Hindia Belanda dan Kita” dalam FSM 2025 diharapkan dapat melakukan pembacaan ulang terhadap berbagai karya sastra Hindia Belanda; menelusuri pengaruhnya terhadap perkembangan sastra (di) Indonesia sejak periode awal kemerdekaan sampai saat ini; dan menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru yang dapat memperkaya wacana dalam khasanah sastra Indonesia.

Selain itu, tahun 2025 ini juga bertepatan dengan peringatan 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer. Selain memiliki “hubungan” dengan Multatuli, Pram juga pernah menulis novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan; yang kemudian diadaptasi Dhalia menjadi drama dua babak dengan berjudul Orang-Orang Baru di Banten. Dalam FSM 2025, novel Pram tersebut akan disajikan dalam bentuk pertunjukan teater, sementara drama adaptasinya diusung sebagai tema diskusi FSM 2025.

TUJUAN

  1. Melakukan pembacaan ulang terhadap karya-karya sastra Hindia Belanda.
  2. Menelusuri dinamika, perkembangan, dan pengaruh karya sastra Hindia Belanda terhadap perkembangan sastra (di) Indonesia mutakhir. 
  3. Menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru yang dapat memperkaya wacana dalam khasanah sastra Indonesia.

NARASUMBER UTAMA:

  1. Iksaka Banu (Penulis)
  2. Dr. Sunu Wasono, M. Hum. (Universitas Indonesia)
  3. Rhomadya Alfa Aimah, M.A. (IAIN Tulungagung)
  4. Dr. Sastri Sunarti, M.Hum. (BRIN)
  5. Dr. Sudarmoko, M.A. (Universitas Andalas)
  6. Anindita S. Thayf (Penulis)
  7. Dr. Hawe Setiawan (Universitas Pasundan)

MODERATOR:

  1. Andi Mulya Lesmana (Malam Puisi Tangerang)
  2. Mushab Abdu Asy Sahid (Universitas Sultan Ageng Tirtayasa)

SESI #2

Dr. Sudarmoko, M.A. (Universitas Andalas)
Bahasan: Sastra “Indonesia” pada zaman Hindia Belanda. Paparan diharapkan dapat menguraikan berbagai karya sastra dari para penulis di wilayah Sumatera—para penulis Minang atau Melayu—pada zaman Hindia Belanda; dan bagaimanakah isu-isu sosial-politik-budaya mengemuka di dalamnya.
Anindita S. Thayf (Penulis)
Bahasan: Bagaimana pemikiran dan karya Pramoedya Ananta Toer dalam kaitannya dengan sastra Hindia Belanda? Paparan diharapkan dapat menguraikan perspektif Pram, baik yang terepresentasi dalam karya-karyanya sendiri maupun yang tercatat dalam referensi lain, terhadap para penulis dan karya-karya sastra Hindia Belanda.
Dr. Hawe Setiawan (Universitas Pasundan)
Bahasan: Sastra Sunda pada masa kolonial dan bagaimana pengaruh sastra Hindia Belanda dalam perkembangan sastra Sunda kemudian? Paparan diharapkan tidak hanya membahas karya sastra Sunda secara tekstual, namun juga meliputi tentang sosok penulis—misalnya Soewarsih Djojopoespito, keragaman dan perkembangan desain cover buku, dan dinamikanya secara kultural.

Daftar di tautan https://s.id/DaftarSimposiumFSM2025