Tentang

Home / Tentang

Festival Seni Multatuli (FSM) merupakan festival tahunan di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten. Sejak pertama kali digelar tahun 2018, festival ini telah melalui perjalanan panjang.

Meski mengusung nama Multatuli, festival ini sejak awal tidak menjadikan tokoh tersebut sebagai pusat tunggal narasi. Multatuli dalam FSM lebih sebagai perjuangan nilai-nilai kemanusiaan. Sebuah pintu masuk untuk membicarakan keadilan sosial dan keberagaman budaya. 

Sebagai bagian dari upaya menggali dan merawat nilai-nilai luhur kebudayaan, perayaan ini menghadirkan pertunjukan seni dan pengetahuan lokal dalam satu perayaan. Selama festival ini digelar turut dihadiri oleh berbagai kalangan dengan lintas disiplin ilmu mulai dari penulis, sejarawan, akademisi, musisi, hingga masyarakat umum. 

FSM pertama kali digelar pada tahun 2018 dengan tema “Narasi sebagai Aset”. Setahun berikutnya, pada 2019, FSM mengusung tema “Seni dan Kopi”. Pada dua tahun pertama ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak bertindak sebagai penyelenggara.

Pelaksanaan FSM sempat vakum pada 2020 karena pandemi, namun semangatnya tak pernah padam. FSM kembali hadir pada 2021 dengan tema “Tunggul Buhun”. Selama tiga tahun tersebut, FSM terselenggara berkat dukungan Direktorat Kebudayaan melalui platform dana gotong royong Indonesiana. Sementara itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak mengambil alih peran sebagai penyelenggara.

FSM terus berkembang. Di tahun keempat FSM 2022 mengangkat tema “Sora Karuhun”. Kesuksesan penyelenggaraan FSM membuatnya masuk dalam program Kharisma Event Nusantara (KEN) milik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Hal ini memberikan peluang lebih luas untuk menjangkau audiens nasional, sekaligus memperkuat daya tarik wisata budaya di Kabupaten Lebak. 

FSM tahun kelima, 2023, mengusung tema besar “Ngadulur Jeung Kultur”. Sementara pada 2024, FSM menghadirkan tema “Jelajah Budaya Bumi Multatuli”. Hingga tahun keenam ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak masih berperan sebagai penyelenggara.

Perjalanan FSM dari tahun ke tahun tidak bisa dilepaskan dari peran penting komunitas lokal di Rangkasbitung dan sekitarnya. Mereka bukan hanya hadir sebagai penonton, tetapi juga terlibat langsung dalam perencanaan maupun terlibat di berbagai mata acara seperti pertunjukan seni, lokakarya, hingga pameran budaya. Keterlibatan aktif ini menjadikan FSM bukan sekadar festival, tetapi ruang bersama yang tumbuh dari partisipasi warga.

Tahun 2025 ini FSM memasuki tahun ketujuh. Tahun ini menjadi penanda penting dalam perjalanan FSM. Untuk pertama kalinya, festival ini sepenuhnya dikelola oleh Yayasan Festival Seni Multatuli, sebuah entitas baru yang lahir dari semangat kemandirian. Ini menandai transisi dari festival yang digagas pemerintah menjadi inisiatif budaya berbasis komunitas yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Tahun ini, FSM mengangkat tema “Orang-orang Baru Dari Banten”. Dengan semangat kolaborasi, FSM menggandeng Semarak Budaya Indonesia dari Komisi X DPR RI, sehingga secara resmi bertajuk Festival Seni Multatuli x Semarak Budaya 2025. Kolaborasi ini menandai fase baru yang mempertemukan kekuatan akar rumput dengan jejaring nasional, memperluas daya jangkau dan pengaruh festival di tingkat kebijakan maupun publik yang lebih luas.

Di masa depan, perayaan FSM diharapkan dapat terus tumbuh sebagai festival yang inklusif, terbuka, dan memberi dampak nyata baik bagi ekosistem seni budaya lokal, maupun dalam wacana kebudayaan Indonesia secara keseluruhan. Dengan semangat gotong royong komunitasnya, FSM bukan hanya layak dipertahankan, tapi juga diperluas jangkauannya agar bisa menjadi inspirasi bagi festival budaya lain di Indonesia.