Oleh: Uthera Kalimaya
Bonnie Triyana (lahir 27 Juni 1979) merupakan seorang sejarawan asal Indonesia yang aktif menjembatani masyarakat dengan sejarah melalui penelitian, penulisan, dan kegiatan budaya. Ia dilahirkan di Rangkasbitung, Banten, dan mengikuti sang ayah yang bekerja di perkebunan hingga harus berpindah-pindah, termasuk ke Sumatera. Pengalaman ini telah membentuk cara pandangnya mengenai keragaman yang ada di Indonesia sejak usia muda.
Pendidikan dan Awal Karier
Usai menyelesaikan pendidikan tinggi di Jurusan Sejarah, Universitas Diponegoro, Semarang (2003), Bonnie mulai menekuni bidang penelitian sejarah. Pada tahun yang sama, bersama Budi Setiyono, ia menyunting karya berjudul Revolusi Belum Selesai: Kumpulan Pidato Presiden Soekarno, yang menjadi langkah awalnya di dunia penerbitan sejarah. Saat ini, ia sedang menempuh studi pascasarjana di Universitas Indonesia melalui Program Pascasarjana Master by research dan sedang dalam proses menulis tesis.
Majalah Historia dan Sejarah Populer
Terinspirasi oleh sebuah majalah sejarah populer dari Brazil, Bonnie merintis Majalah Historia pada 2010. Pada awalnya berbentuk situs web, Historia berkembang menjadi majalah cetak dua tahun setelahnya. Publikasi ini menjadi salah satu media pertama di Indonesia yang memperkenalkan pendekatan sejarah populer—menghadirkan narasi sejarah ke ranah publik dengan bahasa yang mudah dipahami.
Kehadiran Historia kemudian membuat Bonnie sering diundang untuk memberikan pandangan dalam berbagai diskusi publik mengenai sejarah. Salah satu pendapatnya yang menimbulkan polemik adalah penolakannya terhadap upaya menjadikan mantan presiden Soeharto sebagai Pahlawan Nasional pada 2014.
Advokasi Warisan Sejarah
Selain sebagai penulis, Bonnie juga aktif dalam advokasi pelestarian bangunan dan situs bersejarah. Ia terlibat dalam upaya menyelamatkan bekas sekolah Sarekat Islam di Semarang yang sempat terancam hancur. Pada 2018, ia ikut memperjuangkan pendirian Museum Multatuli di Rangkasbitung, sebuah museum yang fokus pada warisan antikolonial dan sejarah lokal Banten.
Pada 2022, Bonnie menjadi kurator tamu untuk pameran mengenai Revolusi Nasional Indonesia di Rijksmuseum, Amsterdam. Dalam pameran tersebut, ia mengungkapkan pendapat kritis terkait penggunaan istilah “Bersiap” yang dianggap menyederhanakan kerumitan sejarah dan memberi stigma kepada masyarakat Indonesia. Pandangannya memicu kontroversi di Belanda, sampai pernah diperdebatkan secara hukum, meskipun kasus itu tidak berlanjut.
Pada tahun yang sama, Bonnie menghadiri forum parlemen Belanda untuk memberikan pandangan Indonesia mengenai kekerasan di masa kolonial dan perang kemerdekaan. Kehadirannya semakin menegaskan posisinya sebagai sejarawan yang berusaha menghubungkan narasi sejarah Indonesia dengan wacana internasional.
Pada tahun 2021 hingga tahun 2024, Bonnie bertugas sebagai Sekretaris Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda. Ia terlibat langsung dalam upaya pemulangan artefak bersejarah Nusantara yang selama berabad-abad tersimpan di luar negeri. Sejalan dengan itu, Bonnie juga menjadi pengajar tamu di Reinwardt Academie, Amsterdamse Hogeschool voor de Kunsten, di mana ia berbagi perspektif tentang sejarah dan warisan budaya Indonesia sekaligus membangun jembatan pengetahuan antara Indonesia dan dunia internasional.
Publikasi dan Karya
Selain Historia, Bonnie juga menulis dan mengedit sejumlah buku, termasuk Revolusi Belum Selesai (2005, bersama Budi Setiyono), Liber Amicorum: 80 Tahun Joesoef Isak (2008, bersama Max Lane), Derom Bangun: Memoar “Duta Besar” Sawit Indonesia (2010), Eddie Lembong: Mencintai Tanah Air Sepenuh Hati (2011), Kabar dari Negeri Seberang (2013), dan Kiprah Politik
Di samping reputasinya sebagai sejarawan, Bonnie juga aktif di dunia politik. Ia tercatat sebagai anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan dan bertugas di Komisi X. Keterlibatannya dalam politik dilihat sebagai langkah untuk memperluas kontribusinya dalam isu-isu kebudayaan, sejarah, dan kebangsaan.
Bonnie Triyana tidak hanya memposisikan dirinya sebagai penulis sejarah, tetapi juga sebagai penghubung antara masa lalu dan masa kini. Melalui media, museum, advokasi, dan keterlibatan politik, ia berupaya menjaga agar sejarah tetap menjadi bagian dari diskusi publik dan relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia di era sekarang.
Keterlibatan Bonnie di FSM 2025 Semarak Budaya Indonesia
Festival Seni Multatuli (FSM) 2025 Semarak Budaya Indonesia hadir sebagai bentuk nyata dari program aspirasi Komisi X DPR RI Bonnie Triyana. Bonnie menggalang partisipasi Kemenbud dan BRIN dalam FSM 2025. Keterlibatan Bonnie di FSM 2025 bukan hanya sebagai penggagas sejak FSM hadir di Rangkasbitung, tetapi juga sebagai penghubung antara aspirasi kebudayaan daerah, dukungan kelembagaan negara, dan kebutuhan masyarakat akan ruang-ruang dialog sejarah. Kehadiran Festival Seni Multatuli 2025 Semarak Budaya Indonesia dengan tema Orang-Orang Baru dari Banten menegaskan komitmen Bonnie untuk menjadikan kebudayaan sebagai pilar pembangunan berkelanjutan dan identitas bangsa.
