Rengkong dan Identitas Agraris dalam Festival Seni Multatuli 2025

Oleh: Uthera Kalimaya

Rangkasbitung, – Festival Seni Multatuli (FSM) kembali hadir di Kabupaten Lebak, Banten, dengan mengusung tema “Orang-orang Baru dari Banten.” Tahun ini, festival menghadirkan beragam seni tradisi dan kontemporer yang menegaskan bagaimana identitas masyarakat Banten terus dibentuk oleh sejarah, migrasi, dan kreativitas generasi penerus. Salah satu kesenian yang menjadi sorotan adalah Rengkong, seni tradisi agraris yang merepresentasikan hubungan erat antara manusia, tanah, dan budaya.

Rengkong: Kesenian dari Lumbung Padi

Rengkong merupakan kesenian asli Sunda yang tumbuh dari kehidupan masyarakat agraris. Sejak dahulu, Banten dan Jawa Barat dikenal sebagai “lumbung padi” Nusantara yang menghasilkan berbagai varietas unggulan yang menopang kebutuhan pangan di Pulau Jawa. Dalam kehidupan yang bergantung pada siklus tanam dan panen, lahirlah tradisi-tradisi kesenian sebagai ungkapan syukur sekaligus perekat sosial, salah satunya adalah Rengkong.

Nama “Rengkong” berasal dari alat pemanggul padi. Terbuat dari bambu gombong sepanjang sekitar dua meter, Rengkong menghasilkan bunyi khas dari gesekan tali injuk (ijuk) dengan bambu ketika digunakan memanggul padi. Jika dimainkan berkelompok, suaranya membentuk irama yang meriah—sebuah musik agraris yang lahir dari alam dan kerja keras petani.

Seluruh bahan pembuatnya bersumber dari alam yaitu bambu betung berdiameter besar, tali injuk, umbul-umbul dari daun pisang kering, serta ikatan padi seberat lebih dari 5 kilogram. Para pemainnya, biasanya lima hingga enam laki-laki dewasa, mengenakan pakaian adat Kasepuhan Sunda berupa baju kampret, celana pangsi hitam, dan iket atau totopong sebagai penutup kepala.

Antara Tradisi dan Tantangan

Rengkong banyak dijumpai dalam berbagai perhelatan adat, terutama Seren Taun yaitu upacara syukur panen raya. Minimnya regenerasi membuat banyak orang tua yang hanya memainkannya, sementara generasi muda mulai menjauh dari tradisi agraris yang menjadi akar kelahirannya.

Kehadiran Rengkong dalam Festival Seni Multatuli 2025 diharapkan menjadi ruang kebangkitan, mempertemukan tradisi lama dengan publik baru, khususnya anak muda Banten. Di sinilah relevansi tema “Orang-orang Baru dari Banten” menemukan maknanya yakni generasi kini dan mendatang diajak untuk melihat tradisi bukan sekadar peninggalan, tetapi sebagai identitas yang bisa ditafsir ulang, dihidupkan kembali, dan diberi makna baru.

Rengkong sebagai Wajah “Orang-orang Baru”

Rengkong merepresentasikan perjalanan masyarakat agraris yang telah melahirkan identitas budaya Banten. Kini, tantangannya adalah bagaimana menjadikan kesenian ini bagian dari kehidupan kultural masa kini. Dengan penampilan Ngarengkong Kolosal di FSM 2025, rengkong tidak hanya dikenang sebagai tradisi lama, melainkan juga diproyeksikan sebagai identitas baru yang bisa menginspirasi kreativitas kontemporer.

Melalui panggung FSM 2025, “orang-orang baru” bukan hanya para pendatang atau generasi muda yang hadir, tetapi juga tradisi yang diberi kehidupan baru. Rengkong yang dahulu lahir dari sawah dan lumbung padi, kini tampil sebagai simbol identitas agraris yang masih relevan dalam era modern. Dan Festival Seni Multatuli 2025 bukan hanya sekadar perayaan seni, melainkan juga undangan untuk merenungkan siapa sebenarnya “orang-orang baru dari Banten” hari ini.Jangan lewatkan Festival Seni Multatuli 2025 pada 5–7 September di Rangkasbitung, Lebak, Banten. Mari saksikan pertunjukan Rengkong Kolosal dan berbagai seni tradisi serta kontemporer lainnya yang merepresentasikan wajah baru Banten. Catat tanggalnya, ajak keluarga dan sahabat, dan jadilah bagian dari lahirnya kembali “Orang-orang Baru dari Banten.” Ikuti kami melalui media sosial @festivalsenimultatuli dan kontak kami melalui surel festivalsenimultatuli@gmail.com.