Orang-orang Baru dari Banten: Wajah Identitas dalam Festival Seni Multatuli 2025

Oleh: Uthera Kalimaya

Rangkasbitung – Festival Seni Multatuli (FSM) tahun ini mengusung tema “Orang-orang Baru dari Banten”, sebuah gagasan yang lahir dari refleksi sejarah, kebudayaan, dan dinamika sosial masyarakat Banten. Tema ini mengajak publik untuk menelaah bagaimana identitas “orang Banten” senantiasa dibentuk ulang oleh arus migrasi, pertemuan budaya, dan pergulatan sejarah.

Banten sebagai Tanah Pertemuan

Sejak dahulu, Banten dikenal sebagai wilayah terbuka yang menjadi simpul pertemuan banyak orang. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan internasional menjadikan Banten sebagai ruang interaksi berbagai etnis, agama, dan tradisi. Dari pedagang Arab, Tionghoa, Gujarat, hingga Belanda, semua pernah menapakkan kaki dan meninggalkan jejak budaya di tanah ini.

Karena itu, konsep “Orang-orang Baru” tidak hanya merujuk pada pendatang, melainkan pada mereka yang terus-menerus menciptakan identitas baru melalui percampuran tradisi lokal dengan pengaruh luar termasuk anak-anak muda yang menjadi generasi baru di Lebak maupun di Banten. Inilah yang menjadikan Banten bukan sekadar tempat lahir, tetapi juga tanah kelahiran kembali bagi identitas yang terus diperbarui.

Multatuli dan “Orang-orang Baru”

Keterkaitan tema ini dengan Multatuli, tokoh yang namanya melekat pada festival, sangat erat. Multatuli adalah “orang baru” di Lebak, tetapi kehadirannya meninggalkan kesan mendalam dalam sejarah kolonialisme di Nusantara. Melalui karya monumentalnya Max Havelaar, ia mengangkat suara rakyat Banten, khususnya Lebak, yang terpinggirkan oleh sistem kolonial.

FSM 2025 menghubungkan kembali spirit Multatuli dengan realitas kekinian: bagaimana “orang-orang baru” hadir di Banten, mengisi ruang budaya, dan memberi warna pada identitas kolektif masyarakatnya.

Kesenian sebagai Penanda Identitas Baru

Festival Seni Multatuli tahun ini menghadirkan beragam kesenian tradisi dan kontemporer yang mencerminkan wajah “orang-orang baru.” Pertunjukan seperti Rengkong Kolosal, seni agraris dari masyarakat Sunda-Banten, menjadi simbol kuat hubungan manusia dengan tanah dan tradisi. Di sisi lain, karya-karya seniman muda yang tampil dalam festival memperlihatkan bagaimana identitas lokal terus direka ulang dalam konteks global.

Dengan demikian, FSM bukan hanya panggung seni, tetapi juga arena dialog antar-generasi dan antar-budaya. Ia membuka peluang bagi masyarakat untuk melihat bahwa menjadi “orang Banten” berarti menjadi bagian dari proses sejarah panjang, yang selalu terbuka terhadap perubahan.

Banten: Dari Masa Lalu ke Masa Depan

Tema “Orang-orang Baru Dari Banten” menyiratkan bahwa identitas tidak pernah statis. Ia terbentuk dari migrasi, perjumpaan, dan bahkan konflik yang melahirkan kebudayaan baru. Banten hari ini adalah hasil dari lapisan-lapisan sejarah tersebut, mulai dari masa kejayaan Kesultanan Banten, kolonialisme, hingga era modern yang penuh mobilitas.

Festival Seni Multatuli 2025 dengan demikian hadir bukan hanya sebagai perayaan seni, melainkan juga sebagai ruang kontemplasi: siapakah sebenarnya “orang Banten” hari ini, dan bagaimana kita memaknai kebaruan yang selalu hadir dalam kehidupan sosial-budaya kita.Mari menjadi “Orang-orang Baru” di Festival Seni Multatuli 2025! Hadiri dan saksikan kemeriahan Festival Seni Multatuli 2025 pada 5–7 September di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten! Dan jadilah bagian dari pertemuan ide, seni, dan kebudayaan yang menghadirkan wajah baru Banten di mata dunia! Kontak kami melalui media sosial resmi @festivalsenimultatuli dan festivalsenimultatuli@gmail.com.