Butet Kartaredjasa: Maestro Satir Panggung Indonesia Baca Puisi di Rangkasbitung!

Oleh: Uthera Kalimaya

“Jika tawa bisa jadi senjata, maka Butet adalah pendekarnya!” – FSM 2025

Bambang Ekoloyo Butet Kartaredjasa lahir pada 21 November 1961 di Yogyakarta. Lahir dari keluarga besar seniman, ia adalah putra maestro tari dan pelukis Bagong Kussudiardja serta kakak dari mendiang musisi dan aktor Djaduk Ferianto. Tumbuh di lingkungan seni sejak kecil, menempanya menjadi seorang aktor, penulis, sekaligus maestro monolog yang sudah lebih dari empat dekade mewarnai dunia seni Indonesia.

Jejak Panjang di Teater

Sejak remaja, Butet aktif dalam berbagai kelompok teater: Teater Kita-Kita (1977), Teater SSRI (1978–1981), Sanggar Bambu (1978–1981), Teater Dinasti (1982–1985), Teater Gandrik (1985–sekarang), hingga Komunitas Seni Kua Etnika (1995–sekarang). Bersama Teater Gandrik, namanya melejit lewat gaya satir khas yang kritis, jenaka, dan membumi.

Selain berteater, Butet dikenal sebagai aktor monolog ulung. Monolog-monolognya antara lain, Racun Tembakau (1986), Matinya Toekang Kritik (2006), Presiden Guyonan (2008), hingga Kucing (2010)—menjadi tonggak penting dalam tradisi teater satir di Indonesia. Ia piawai menghidupkan tokoh-tokoh fiktif sekaligus menghadirkan kritik sosial dan politik yang segar, terutama lewat tiruannya terhadap suara mantan Presiden Soeharto yang menjadi ciri khasnya.

Satir di Layar Televisi dan Film

Kritik sosial Butet juga meluas ke layar kaca. Ia mencuri perhatian lewat Republik Mimpi, dengan tokoh parodi “SBY (Si Butet Yogja)” yang populer di awal 2000-an, lalu memperkuat reputasinya lewat program mingguan Sentilan-Sentilun di Metro TV bersama Slamet Rahardjo dan Cak Lontong.

Di dunia film, Butet mencatatkan perjalanan panjang dengan peran yang beragam: dari Pak Raden dalam Petualangan Sherina (2000), Drs. Kelana di Banyu Biru (2005), Toegimin di Soegija (2012), hingga Semar dalam Gatotkaca: Satria Dewa (2022). Film-film lain seperti Maskot (2006), Anak-Anak Borobudur (2007), 3 Doa 3 Cinta (2008), Nada untuk Asa (2015), dan Abracadabra (2020) memperlihatkan keluwesannya berpindah dari tokoh komedi ke peran yang lebih serius.

Tak hanya film panjang, Butet juga tampil dalam film pendek Drupadi (2008) sebagai Patih Sengkuni sekaligus ko-produser, menandai kiprahnya sebagai seniman multitalenta.

Indonesia Kita: Seni sebagai Jalan Kebangsaan

Pada 2011, bersama Agus Noor dan Djaduk Ferianto, Butet menggagas program “Indonesia Kita”, sebuah pergelaran seni berseri yang membicarakan pluralisme, kebangsaan, dan keindonesiaan melalui jalan seni. Pertunjukan seperti Laskar Dagelan, Beta Maluku, Mak Jogi, dan Kutukan Kudungga lahir dari gagasan ini, menjadi ruang kreatif untuk merayakan keberagaman budaya Nusantara. Kini, Butet juga aktif sebagai Ketua Yayasan Bagong Kussudiardja, melanjutkan jejak ayahnya menjaga denyut seni di Yogyakarta.

Karya Tulis dan Penghargaan

Selain di panggung dan layar, Butet juga menulis. Bukunya Presiden Guyonan (2008) merekam jejak kritik politiknya yang satir namun reflektif. Ia juga telah mengoleksi berbagai nominasi bergengsi, seperti MTV Indonesia Movie Awards (2005) untuk Banyu Biru, Festival Film Jakarta (2006) untuk Maskot, serta Festival Film Indonesia (2012, 2020) untuk Soegija dan Abracadabra.

Butet di Festival Seni Multatuli 2025

Dengan karier lebih dari empat dekade, Butet Kartaredjasa bukan hanya seniman, melainkan juga suara nurani bangsa. Melalui satir, humor, dan refleksi mendalam, ia menunjukkan bahwa seni mampu menjadi cermin sekaligus obat bagi masyarakat.

Saksikan kehadiran Butet Kartaredjasa dalam Festival Seni Multatuli 2025 Semarak Budaya Indonesia!

Nikmati pertunjukan yang akan membawa Anda tertawa, merenung, sekaligus menyadari betapa pentingnya seni dalam menjaga jiwa bangsa.